Berita

Tips Kuat Mental Investasi di Tengah Gejolak Pasar

13 Maret 2020

Virus corona telah menyebabkan lemahnya bursa saham di Asia. Selain itu, harga minyak juga merosot setelah OPEC gagal mencapai kesepakatan dengan Arab Saudi mengenai pemotongan produksi, hal ini turut berpengaruh ke kondisi pasar modal Indonesia sepanjang pekan ini.

Pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok ke level 4.895,75. Jika dihitung sejak awal tahun (YTD), IHSG sudah turun 22.28%, termasuk yang terdalam di antara bursa saham di Asia. Di satu sisi, anjloknya pasar saham dapat dilihat sebagai peluang bagi investor untuk masuk dan berinvestasi. Namun, tetap harus berhati-hati dalam menentukan kapan harus investasi atau tidak.

Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memberikan tips untuk investor agar kuat mental dalam menghadapi gejolak pasar saham.

Jangan Terlalu Mudah Terpengaruh Kondisi Pasar

Jika IHSG mengalami penurunan akan muncul berita-berita di media online, atau media sosial yang belum jelas kesahihannya. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran bagi investor pemula. Sebaiknya, investor tetap mencari dan menganalisis prediksi seberapa menguat IHSG akan berlanjut.

Terlalu optimis atau terlalu pesimis dapat menimbulkan kekhawatiran berlebihan untuk investor pemula. Terlihat bahwa faktor lingkungan ini juga berperan signifikan dalam membentuk bias psikologi, kebiasaan investasi, atau persepsi dari seorang investor.

Kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi?

Investor sering kali memiliki pola pikir, ketika pasar saham turun, investor reksa dana saham takut pasar saham akan turun, sehingga memilih untuk menunda investasi.

Sebaliknya, ketika pasar saham menguat, investor reksa dana saham pun tidak berinvestasi karena takut pasar saham sudah kemahalan. Keputusan investasi seharusnya tidak dilakukan dengan cara menebak-nebak, karena pasar finansial memang tidak bisa ditebak.

Lakukan investasi secara berkala?

Pernah kan kalian memikirkan kerugian yang terjadi ketika kalian terlalu lama menebak-nebak pasar saham?

Bagi investor yang memiliki profil risiko agresif, dengan tujuan jangka panjang, dan memiliki dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat, dapat berinvestasi secara berkala (regular) tanpa memperhatikan pergerakan pasar naik atau turun.

Bagaimana dengan investor yang memiliki profil risiko konservatif atau moderat? Pilihan bisa ke reksa dana pendapatan tetap atau pasar uang. Jika ingin memperluas alokasi aset, menambah sedikit porsi investasi di reksa dana saham, maksimal 20%.

Kuncinya hanya tetap melakukan investasi secara berkala. Mau pasar saham naik atau turun. Tetap berinvestasi!