Loading...

Berita

Membedah Dinamika Toxic Circle: Mengapa Manipulator Bisa Menguasai Lingkungan Kerja?

01 Desember 2025

Cianjur - Dalam psikologi organisasi, lingkungan kerja yang sehat dibangun atas dasar transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit organisasi yang justru berkembang menjadi ekosistem yang secara tidak sadar melindungi perilaku manipulatif dan melemahkan individu-individu berintegritas. Fenomena ini sering disebut sebagai workplace atau institutional gaslighting, yaitu bentuk manipulasi sistemik yang membuat penyimpangan tampak normal dan kebenaran terlihat sebagai ancaman.

1. Aliansi Manipulator dan "Flying Monkeys"

Seorang manipulator jarang bekerja sendirian. Mereka kerap membangun aliansi informal dengan individu-individu yang dalam literatur psikologi populer dikenal sebagai flying monkeys. Istilah ini merujuk pada rekan kerja yang secara sadar maupun tidak menjadi perpanjangan tangan pelaku manipulasi.

Peran mereka biasanya meliputi:

  • Menyebarkan narasi negatif atau opini sepihak
  • Memperkuat persepsi tertentu di hadapan manajemen
  • Mengisolasi individu yang dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan

Dalam kondisi ini, kompetensi dan integritas tidak selalu menjadi faktor utama dalam penilaian sosial. Yang lebih menentukan adalah keselarasan narasi dan loyalitas terhadap figur dominan.

2. Mengubah Korban Menjadi Penjahat: Pola DARVO

Salah satu pola manipulasi yang paling sering muncul dalam lingkungan kerja toxic adalah DARVO (Deny, Attack, and Reverse Victim and Offender).

  • Deny: Pelaku menyangkal kesalahan atau penyimpangan yang terjadi.
  • Attack: Pelaku menyerang pihak yang mempertanyakan atau mengkritisi.
  • Reverse Victim and Offender: Pelaku memosisikan diri sebagai korban, sementara pihak yang dirugikan digambarkan sebagai sumber konflik.

Pola ini efektif karena banyak organisasi lebih responsif terhadap stabilitas emosional jangka pendek daripada proses klarifikasi fakta yang mendalam.

3. Distorsi Atribusi dan Pengaburan Kontribusi

Dalam lingkungan yang terpengaruh manipulasi, kontribusi individu termasuk ide dan sistem yang original, sering kali dinilai berdasarkan visibilitas dan akses terhadap narasi, bukan berdasarkan peran nyata dalam proses penciptaan.

Ketika akuntabilitas lemah dan dokumentasi tidak transparan, terjadi distorsi atribusi: kontribusi kreator sebenarnya diabaikan atau diklaim oleh pihak lain. Kondisi ini bukan semata kegagalan individu, melainkan cerminan kelemahan sistemik organisasi.

4. Dampak Psikologis terhadap Individu Berintegritas

Bagi individu yang menjunjung profesionalisme dan kejujuran, berada di lingkungan dengan manipulasi sistemik dapat memicu kelelahan emosional, penurunan kepercayaan diri, dan konflik nilai internal. Tekanan sosial yang bersifat kolektif sering kali membuat suara rasional terdengar “mengganggu”, sementara perilaku manipulatif justru dianggap sebagai kecakapan politik.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi merugikan organisasi karena keputusan dan arah sistem ditentukan oleh persepsi, bukan realitas kerja.

Kesimpulan

Lingkungan kerja yang sehat tidak dibangun dari keseragaman suara, melainkan dari keberanian untuk menjaga kebenaran dan akuntabilitas. Ketika manipulasi dan aliansi toxic dibiarkan, organisasi mungkin tampak stabil di permukaan, namun rapuh di dalam.

Integritas memang tidak selalu memberi kenyamanan instan, tetapi dalam sistem yang tepat, ia menjadi fondasi utama keberlanjutan dan kepercayaan jangka panjang.

#LingkunganKerjaBerbahaya#BudayaKerjaToxic#WaspadaBudayaKerj